CIPTA SEWAGATI TEBING KARANGPENGANTEN

KEMAHASISWAAN

Pamulang, 23 November 2020. Anggota Madya Mahasiswa Pecinta Alam Archa Buana Universitas Pamulang melakukan Ekspedisi Tri Dharma dan Panjat Tebing Angkatan XV Cahaya Tirta Salaka kegiatan ini diselenggarakan pada hari Senin, 23 November 2020 – Sabtu, 28 November 2020. Kegiatan Ekspedisi ini dilakukan oleh Anggota Madya yang berjumlah 7 orang, terdiri dari: Panji Adam “Loding”, Rifqi Hilmi “Bete”, Pratama “Sober”, Siska Riani “Lidi”, Mutiara Sherly “Koce”, Yusnamira “Pepi”, Yuistiani “Peron”. Diawali dengan melakukan upacara pelepasan. Anggota Madya dilepas oleh Bapak Dadang Sumarna, S.H., M.H. selaku pembina MPA Archa Buana yang berpesan “Taati protokol kesehatan, bila cuaca tidak mendukung jangan dipaksakan untuk melakukan kegiatan, jaga sikap untuk menjaga nama baik kampus dan organisasi”  di panggung demokrasi Universitas Pamulang kampus 3 yang terletak di Jl. Witana Harja No. 18b, Pamulang Tangerang Selatan. Dicky Suhendar “Sento” Sebagai Ketua Umum MPA Archa Buana berpesan “Kegiatan ini sangat bagus, Mahasiswa dapat melakukan Tri Dharma Perguruan tinggi serta menyalurkan hobi dan bakatnya kemudian. Tetap jaga kesehatan, Jangan mau kalah dengan keadaan. SEMANGAT PEMUDA !”

Upacara Pelepasan Ekspedisi

Simbolis Pelepasan dengan Ketua Pelaksana

Foto Bersama setelah Upacara

Sambutan Ketua Umum MPA Archa Buana

Setelah upacara pelepasan divisi panjat tebing mempersiapkan keberangkatan yang terdiri dari dua anggota madya: Mutiara Sherly “Koce” prodi Matematika dan Pratama “Sober” prodi Manajemen, didampingi oleh Muhammad Zidan Al Rahdi “Geser” prodi Sastra Indonesia serta didukung oleh Muhammad Fadhillah “Jadoy” prodi Teknik Elektro dan Dede Rukmana “Gotun” prodi Manajemen. Melakukan kegiatan Ekspedisi di Tebing Karangpenganten yang biasa disebut Tebing Citatah 90 beralamatkan di Desa Gunung Masigit, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat, Padalarang, Jawa Barat. Perjalanan dimulai pada pukul 14.00 WIB menuju terminal Kampung Rambutan dan dilanjut dengan menaiki bus jurusan Garut via Puncak.

Bandung, 24 November 2020. Anggota Madya Divisi Panjat Tebing Mahasiswa Pecinta Alam Archa Buana telah berada di tempat Ekspedsi yaitu Tebing Karangpenganten di Desa Gunung Masigit, Kec. Cipatat, Kab. Bandung Barat, Padalarang, Jawa Barat.

Tebing Karangpenganten merupakan tebing dengan batuan jenis kars yang memiliki ketinggian ±100 meter dari permukaan tanah, pada titik koordinat BT: 107º26’44” dan LS: 06º49’41”. Tumbuhan yang kami temui di tebing yaitu pohon nona, pohon jambu, pohon cherry dan juga ilalang – ilalang besar yang tumbuh rimbun di sekitaran teras tebing dan terdapat hewan seperti ulat bulu, monyet dan juga burung elang.

Sejarah tebing Karangpenganten yang kami dapat setelah melakukan sosialisasi pedesaan ialah pada zaman dahulu tebing ini merupakan tempat yang akan dijadikan oleh Sangkuriang untuk menikahi ibu kandung nya yang bernama Dayang Sumbi. Namun Dayang Sumbi memberi syarat kepada Sangkuriang meminta dibuatkan bendungan dan perahu untuk berlayar setelah menikah nanti. Setelah Sangkuriang menyelesaikan syarat yang diberikan oleh Dayang Sumbi, Dayang Sumbi ingkar janji dan membuat Sangkuriang kesal dan menendang perahu yang sudah dibuat sampai ke curug Cimahi yang sekarang banyak dikenal sebagai tangkuban perahu, peristiwa tersebut disebut “Saguling Dibendung”.

Tebing Karangpenganten termasuk kawasan perbukitan yang sebagian besar terdiri dari batuan kapur dan tebing Karangpenganten juga dikelilingi oleh gunung – gunung diantaranya: Gunung Masigit, Gunung Hawu, Gunung Leuit, Gunung Manik dan Gunung Pabeasan. Tebing ini awal digunakan sebagai sarana pemanjatan sejak tahun 90’an dan mulai sering dikunjungi oleh para pemanjat sejak tahun 2000’an baik untuk kegiatan latihan pemanjatan atau pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam dari puncak tebing.

Kegiatan yang akan dilakukan di Tebing Karangpenganten ini merupakan pengaplikasian dari materi – materi panjat tebing yang sudah didapat, diantaranya: pengaplikasian Top Rope, Sport Climbing, Artificial Climbing, Single Rope Technique, High Camp, Vertical Rescue dan Mapping jalur pemanjatan.

Aplikasi Top Rope

Aplikasi Sport Climbing

Aplikasian Artificial Climbing

Aplikasi Instalasi High Camp

Aplikasi Single Rope Technique

Aplikasi Mapping jalur pemanjatan

Aplikasi Vertical Rescue

Selesai melakukan aplikasi meteri panjat tebing, kami melakukan Analisa air secara sederhana dengan mengambil sample dari sumber mata air di Tebing Karangpenganten untuk mengetahui sumber air tersebut bisa dikonsumsi atau tidak dan langsung disosialisasikan kepada abah Tatang selaku penduduk yang kesehariannya berada di tebing.

Sumber Mata air di Tebing Karangpenganten

Pengambilan Sample Air

Melakukan Analisa Air

Analisa air sederhana yang sudah kami lakukan dengan menggunakan kertas lakmus. Dari hasil analisa air tersebut kertas lakmus tidak berubah warna dan setelah diamati fisik air nya jernih tidak keruh, tidak berbau dan tidak berasa bisa disebut air dari sumber mata air di Tebing Karangpenganten memiliki derajat rendah.

 

Penulis: Mutiara Sherly “Koce” AB/XV-AMD/CTS/20

Total Page Visits: 110 - Today Page Visits: 1