SEMINAR KOMSOS CEGAH TANGKAL RADIKALISME / SEPARATISME TW IV TA 2020.

KEMAHASISWAAN

Pamulang, 22 Oktober 2020, Seminar yang di adakan oleh TNI AD ini bertujuan untuk memupuk kemahasiswan agar tidak terpengaruh oleh paham radikalisme di era pandemi. Universitas Pamulang masuk kedalam 10 Universitas di Jabodetabeka yang diundang untuk kegiatan ini. Universitas mengirimkan 10 orang mahasiswa dan mahasiswinya untuk mengikuti kegiatan seminar ini.

Para peserta dijemput oleh TNI AD dari kampusnya dan diantar pulang kembali kekampus, acara yang dibuka oleh Wakil Asisten. Pembicara dalam seminar ini ada dari Kominfo, Prof. Dr. Hendri Subiakto (Guru Besar Fisip Unair), Kementrian Agama Aceng Abdul Azis S.Ag, M.Pd, Dari Badan Nasional Penanggulangan Teroris Kolonel Czi Rahmat Suhendro  dan di moderatori oleh Offie Dwi Natalia.

Menurut Dicky Suhendar “Kegiatan ini harus di apresiasi, karena mencegah penyebaran dikalangan pemuda mahasiswa yang rentan akan berita – berita tidak jelas. Dari kegiatan ini diharapkan seluruh elemen termasuk mahasiswa bisa menangkal adanya tindakan separatisme dan radikalisme di era pandemi. Sosial media jadi ujung tombak penyebaran berita – berita burung yang tidak jelas untuk menimbulkan kebingungan di masyarakat berbagai kalangan, nah peran mahasiswa bisa membantu mensaring berita – berita yang beredar kemudian di sharing kembali ke masyarakat, terlebih untuk kalangan masyarakat yang kurang berpendidikan karena rentan akan provokasi paham – paham radikal”.

Menurut Nurul “Kalangan milenial aktif di media sosial karena media sosial memfasilitasi hasrat untuk diperhatikan dan memperhatikan. Serta media sosial dapat juga menjadi paradise of democracy. Intoleransi dan radikalisme marak terjadi di dunia Maya. Ini semua dibantu oleh adanya AI(artificial intelligence) yang mempermudah masuk ke dalam echo chambers. Contohnya seperti ini, jika kita melakukan pencarian terhadap radikalisme lalu terpengaruh/penasaran, maka AI akan menganggap yang kita cari adalah sebuah kebutuhan sehingga AI akan terus mengirimkan hal-hal serupa yang kita cari”.

mengutip narasi yang disajikan oleh Prof.Dr.Henri subiakto tentang faktor-faktor pendorong radikalisme yaitu :

* PHK dan pengangguran yang meningkat cepat
* kelesuan ekonomi
* masyarakat kehilangan penghasilan
* kelaparan
* isu vaksin

kemudian bicara tentang hoax dimana masyarakat masih termakan hoax,karena masyarakat membaca dan menyimpulkan suatu isu atau pemberitaan secara cepat tanpa adanya validasi terlebih dahulu dan alasan lainnya ialah masyarakat membenarkan suatu kabar berdasarkan tingkat keseringan mereka melihat kabar berita tersebut.maka dari itu kita sebagai mahasiswi diharuskan untuk memberi pemahaman tentang bagaimana kita saat menerima suatu kabar.

 

 

Total Page Visits: 32 - Today Page Visits: 1