Mahasiswa Universitas Pamulang menghadiri Undangan Sosialisasi Kegiatan Komunikasi Sosial dengan Komponen Masyarakat

KEMAHASISWAAN

Pamulang. Universitas Pamulang mendapatkan undangan dari Komando Distrik Militer (Kodim) Tangerang dalam Sosialisasi Kegiatan Komunikasi Sosial (Komsos) dengan Komponen Masyarakat (Komas) yang diwakili oleh 5 orang mahasiswa/i dari prodi Akuntansi, Sekretari dan Manajemen. Kegiatan tersebut  dilaksanakan di Aula Yonkav 9/SDK Batalyon BSD pada hari Rabu, (30/09/2020).

Pada kegiatan kali ini pihak Komsos (Komunikasi Sosial) dari TNI AD mengundang 2 orang narasumber, yaitu Ibu dr. Erna Mulati, M.Sc CMFM selaku Dirkesga Kemenkes RI dan Ibu Indriyani Virginia, M.Psi selaku psikolog untuk membahas mengenai adaptasi kebiasaan baru dan tantangannya. Pada kegiatan kali ini, peserta tidak hanya di hadiri oleh Perwakilan dari Universitas pamulang, tetapi ada juga di hadiri oleh perwakilan dari Universitas Indonesia, KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), dan beberapa Universitas lainnya. Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, di lanjutkan dengan doa pembuka, serta pembukaan yang di wakili oleh Bapak Toto. Masuk ke dalam acara inti, acara di pandu oleh Intan Aletrino.

Narasumber pertama yang memaparkan materi adalah Ibu dr. Erna Mulati, M.Sc. MCFM Dirkesga Kemenkes RI. Beliau mengatakan, bahwa dalam era New Normal ini “Normal” bukan berarti normal yang sesungguhnya. Tetapi “Norma”, norma baru yang harus di patuhi secara bersama. Beliau juga menyampaikan pesan bagaimana “kita” sebagai generasi muda untuk dapat membantu peran pemerintah dalam memberikan informasi mengenai virus yang ada dengan bahasa kita sendiri yang di rasa mudah untuk di pahami oleh banyak orang, karena pesan atau informasi yang di berikan oleh pemerintah di rasa atau di pandang sebagai “suruhan/ teguran” kepada masyarakat. Dari pemaparan yang di sampaikan oleh Ibu Erna, pencegahan Covid-19 ini di dapat diatasi dengan beberapa cara, diantaranya: Rajin mencuci tangan, Menghindari memegang area sekitar wajah seperti mata, hidung, dan mulut. Dan yang terakhir adalah dengan menghindari interaksi fisik dengan orang lain seperti berbicara secara berdekatan dengan orang lain. Kemudian dari itu, peningkatan imunitas tubuh yang dapat kita lakukan adalah dengan cara rutin menjalankan aktivitas fisik seperti berolah raga, minum vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh/ imun, banyak makan-makanan yang sehat dan bergizi, serta istrahat yang cukup.

Materi yang paling penting yang di sampaikan oleh Ibu Erna kepada kita adalah peran kita sebagai generasi muda. Diantaranya:

  1. Mencegah penularan di rumah dan lingkungan kita
  2. Menjadi role mode PHBS dan CTPS bagi orang sekitar kita
  3. Menjadi penyambung Informasi
  4. Menjadi edukator
  5. Menjadi pendamping
  6. Partisipasi aktif

Narasumber kedua ialah Ibu Indriyani Virginia, M.Psi, beliau adalah seorang Psikolog yang dimana beliau mengatakan bahwa sekarang dunia “sempit”, dikatakan sempit karena di era sekarang ini semua orang dari mana saja dapat berjumpa dalam 1 gawai yaitu handphone/ laptop. Dari sekian banyak materi atau pemaparan yang di berikan oleh Ibu Indriyani, dapat saya ringkas bahwa beliau mengatakan bahwa selama 6 bulan kita melakukan segala aktivitas dari rumah akibat pandemi ini, banyak sekali hal-hal yang mengganggu kesehatan fisik dan mental pada tiap orang, contohnya banyak kasus perceraian, stress, bunuh diri, dan lain sebagainya. Kemudian juga di jelaskan bahwa ada 3 kecerdasan yang di miliki oleh tiap manusia di dalam dirinya, yaiitu:

  1. IQ = Intelligince Quotient, yang dapat membaca situasi
  2. EQ = emotional Quotient, untuk dapat mengelola emosi
  3. SQ = Spiritual Quotient, untuk melihat makna dari segala sesuatu

Kemudian beliau juga mengatakan bahwa reaksi kita terhadap stress ada 4, yakni:

  1. Flight = dimaksudkan adalah menghindari, pergi atau lari. Lari dari masalah yang ada, ketika kita memiliki salah dengan teman, sahabat dan lainnya kita memilihi pergi, lari, atau menghindar dari permasalahan yang ada.
  2. Fight = Saat seseorang menghadapi bahaya dan tak dapat menghindari deteksi dengan cara membeku (freeze) atau menyelamatkan diri dengan cara berlari (pergi) menjauh (flight), satu-satunya alternatif adalah bertarung.
  3. Freeze = respon ini yang digunakan manusia modern dan bertahan hingga saat ini sebagai lapis pertama pertahanan untuk menghadapi ancaman atau bahaya.
  4. Face = face di rasa merupakan salah satu reaksi yang bagus karena yang di maksudkan di sini adalah kita secara berani menghadapi tantangan yang ada. Tidak menghindar, tidak bertarung, dan tidak diam membeku.

Kemudian yang terakhir yang di sampaikan oleh Ibu Indriyani adalah, di masa-masa pandemi seperti sekarang ini, kita harus bisa saling berempati kepada sesama karena di masa sekarang ini bukan hanya satu dua orang yang terkena dampak, tetapi kita semua.

Diakhir acara, Intan Aletrino selaku pembawa acara membuka 2 sesi tanya jawab yang di wakilkan oleh 5 orang peserta yang semuanya merupakan perwakilan dari KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia), ada yang bertanya mengenai transparansi pihak perusahaan terhadap karyawannya yang terkena virus corona, karyawan yang malu untuk di ekspos karena takut di bully oleh banyak orang, transparansi pihak rumah sakit terhadap pasien atau keluarga pasien baik yang terinfeksi virus maupun tidak, cara membunuh virus yang ada, bantuan pangan dari pemerintah kepada masyarakat, serta sebenarnya apakah virus ini nyata atau hanya fiktif belaka. Yang kemudian semua pertanyaan ini dapat di jawab dengan baik oleh kedua narasumber, yaitu Ibu Erna dan Ibu Indriyani.

Dengan adanya kegiatan ini saya sangat senang dan bangga mengikutinya karena banyak hal, ilmu, pengalaman dan wawasan baru yang saya dapatkan dan saya pelajari dari para ahli yang ada di bidangnya. Kemudian dengan kegiatan Komsos ini, saya berharap sebagai mahasiswa ataupun generasi muda saya dan kita semua yang hadir pada kegiatan tersebut dapat benar-benar bisa menjadi partisipan atau role mode bagi orang di sekitaran kita, kita harus bisa bersama membantu pemerintah untuk menyukseskan adaptasi di era baru ini dengan baik. Terima kasih dan mohon maaf apabila ada kesalahan dalam penulisan ini.

Kegiatan ini mengangkat tema “Peran  Generasi Muda dalam Menyukseskan Adaptasi Kebiasaan Baru di Era New Normal”. Karena adaptasi kebiasaan baru dalam menangani Covid-19 ini harus melibatkan peran generasi muda yang dapat lebih mudah dicerna pemberian pemahamannya dibandingkan dengan penyampaian dari pihak Kemenkes. Oleh karena itu, tamu undangan yang hadir pun melibatkan organisasi-organisasi kepemudaan seperti KNPI dan Mahasiswa – Mahasiswi dari berbagai universitas.

Narasumber pada kegiatan ini merupakan perwakilan dari Kemenkes yaitu dr.Erna Mulati, M.Sc, CMFM dan narasumber kedua adalah seorang psikolog bernama Indriyani Virginia, M.Psi.

Dalam penyampaian materinya, dr.Erna menyebutkan berbagai macam gejala yang dirasakan pada penderita Covid-19 “Sekarang ini banyak orang tanpa gejala(OTG) yang tidak batuk, tidak pilek, tidak panas tetapi yg dirasakan hanya hilang rasa pada indera pengecapan serta hilang penciuman. Ini juga bisa beresiko positif terpapar virus dan kita yang berada di sekitarnya bisa saja tertular oleh OTG tersebut, kita harus lebih waspada terhadap hal-hal yang ada disekitar kita agar tidak bertambah lagi pasien yang terpapar virus Corona ini” ujarnya

“Peran generasi muda terhadap adaptasi kebiasaan baru saat ini yaitu dengan menjadi role model, maksudnya jangan hanya menyuruh memakai masker, mengenakan handsanitizer saja tetapi kita juga harus menerapkannya pada diri kita terlebih dahulu agar mereka dapat mencontoh kebiasaan baik kita untuk kepentingan dan kesehatan bersama” Ujarnya.

Di era pandemi saat ini, semua kegiatan serba dikerjakan dirumah, tidak mengherankan banyak orang yang terganggu mentalnya, bahkan selama masa pandemi ini gangguan  jiwa seperti stress dan depresi semakin meningkat. Ahli psikolog Indriyani Virginia, M.Psi menyampaikan bahwa stress dan depresi tidak mungkin hilang tetapi kita  harus  tahu cara menghadapinya  “Penyebab stress dan depresi itu karena kita tidak dapat mengendalikan emosional diri sendiri, sehingga banyak mereka yang tidak dapat mengendalikan emosi melampiaskannya dengan membenturkan kepala ke tembok bahkan sampai muncul perasaan bunuh diri. Maka dari itu yang pertama kita perlukan adalah self awareness atau mengenali emosi diri sendiri terlebih dahulu agar kita bisa menghadapi permasalahan yang ada dengan cara yang benar misalnya dengan mencari win-win solution, curhat dengan orang terpercaya, bahkan refreshing ke tempat-tempat tenang pun diperlukan untuk menghilangkan stress” ujarnya

“Intinya, berpikir sebelum bertindak adalah hal utama dalam menyelesaikan masalah.” Tambahnya

Di penghujung kegiatan ini, para peserta kegiatan di perbolehkan bertanya mengenai topik pembahasan tersebut dan melakukan sesi foto bersama dengan para narasumber beserta peserta lainnya.

Menurut salah satu Mahasiswi Unpam saudari Chyntia mengatakan “ Dengan adanya kegiatan ini kita bisa saling  mengingatkan dan waspada akan bahayanya Covid-19 dan kita selalu dianjurkan untuk menjaga diri, membataskan interaksi serta  melakukan isolasi mandiri seperti yang sudah ditetapkan dalam protokol kesehatan “.

Dalam kegiatan ini kami sebagai peserta undangan sangat mendapatkan banyak informasi yang positif dan bermakna maka dari itu hidup adalah kesempatan, dan  jalani kesempatan ini dengan saling menguatkan satu sama lain.(Cor)

Total Page Visits: 103 - Today Page Visits: 1