HIMA FH mengadakan KARAMEL(Kajian Agama Remaja Milenial)

LEMBAGA KEMAHASISWAAN & ALUMNI (LKA)

Pada tanggal 11 September 2021 Himpunan Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Pamulang melalui Bidang Sosial dan Kerohanian melaksanakan kegiatan Kajian Agama Remaja Milenial yang bertemakan “Menebar Cinta dan Kasih Sayang Menurut Perspektif Agama” begitu banyak cara yang dapat dilakukan untuk menjalin Hubungan baik antara sesama manusia, salah satunya dengan kebersamaan.

Kegiatan ini diadakan di Sekretariat Bersama HIMA FH dengan berbagai rangkaian kegiatan, tujuan dari kegiatan ini adalah memperbanyak ilmu cinta dan kasih sayang menurut agama dan mempererat tali silaturahmi antar sesama. Adapun kegiatan kajian ini dihadiri oleh pengurus dan anggota HIMA FH Periode 2020/2021. Kegiatan ini dimulai dari sambutan atau pembukaan yang dibawakan oleh moderator yaitu Eka Puteri Ramadhanti selaku Kepala Bidang Sosial dan Kerohanian, dan dilanjut dengan pemateri pertama dibawakan oleh Juan Anggi Manullang selaku Wakil Ketua Umum HIMA FH Periode 2020/2021 dan pemateri kedua dibawakan oleh Sulaiman selaku Sekertaris Bidang Kajian dan Keilmuan HIMA FH Periode 2020/2021.

Kajian kali ini berbicara tentang adakalanya perbedaan terdapat pada hal-hal yang tidak prinsip seperti dalam hal peribadatan, namun tidak menutup kemungkinan untuk bersifat prinsip dan fundamental seperti dalam tatanan teologi. Dalam Agama Kristen berpendapat bahwa agama diturunkan Tuhan dengan spirit Cinta Kasih penuh bagi umat manusia guna kebahagiaan dan kesejahteraan hidup mereka. Aturan aturan dan kode etik agama pun, sering kali terasa berat untuk dijalankan, sebenarnya tidak terlepas dari spirit cinta dan kasih ini. Oleh karenanya, agama menjadi bukti nyata kasih dan sayang  Tuhan kepada manusia agar mereka memiliki orientasi yang lurus dan baik.  Selain itu bagi pemeluk agama Kristen yang memang menjadikan ajaran cinta kasih sebagai simbol dan ciri khasnya. Secara teologi, umat kristiani sangat meyakini bahwa drama penyaliban Yesus merupakan bukti cinta kasih Tuhan kepada umat manusia. Jika Yesus tak merelakan dirinya disalib, maka manusia akan memikul dosa waris Nabi Adam sepanjang masa. Kristen selalu  identik dengan agama cinta Kasih. Pribadi Tuhan Yesus senantiasa dipandang sebagai sosok penabur kasih kepada siapa pun bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Seperti yang tertulis dalam Kitab Injil Alkitab  (1 Korintus 13 : 4-5)  yang berbunyi “kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.

Dan menurut agama Islam, kasih sayang yang menghendaki dan mencintai kedamaian dari akar kata yang sama dengan nama agama ini, salam berarti perdamaian dan keselamatan. Ungkapan asalamu’alaikum (salam sejahtera untuk anda) yang dianjurkan untuk “Tebarkanlah salam kepada orang yang engkau kenal dan yang tidak engkau kenal”, menunjukkan bahwa kedamaian yang didambakan bukan hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain. Bahkan, menurut Nabi lebih lanjut, salah satu ciri kesempurnaan seorang Muslim adalah, “siapa yang dapat menjaga lidah dan tangannya dari menyakiti orang lain”,  hingga ia dapat hidup nyaman bersama sang Muslim. Dalam buku-buku yang ditulis sejarawan manapun, Nabi Muhamad diakui sebagai sosok penyanyang, penyantun, dan berbudi sangat luhur bahkan terhadap musuhnya sekalipun. Rahmat Tuhan yang dibawanya menyentuh benda-benda yang tak bernyawa. Konon, dalam riwayat yang masyhur diceritakan bahwa rahmat Nabi SAW bukan hanya dirasakan oleh pengikut-pengikutnya, bahkan bukan hanya manusia. Menurut ahli tafsir Indonesia terkemuka, Quraish Shihab, sebelum Eropa mengenal Organisasi Pecinta Binatang, Nabi telah mengajarkan, “Apabila kalian mengendarai binatang, berikan haknya, dan janganlah menjadi setan-setan terhadapnya.” “seorang wanita dimasukan Tuhan ke neraka dikarenakan ia mengurung seekor kucing tidak memberinya makan, dan juga tidak dilepaskan untuk mencari makan sendiri”. Sebaliknya, pada saat yang lain beliau bersabda, “Seorang yang bergelinang di dalam dosa diampuni Tuhan karena memberi minum anjing yang kehausan”. Sebelum dunia mengenal istilah “kelestarian lingkungan”, manusia agung ini telah menganjurkan untuk hidup bersahabat dengan alam. Menurutnya, Tuhan memudahkan alam untuk dikelola manusia, ini tertulis dalam surat (Ibrahim:32).

Jadi kesimpulannya adalah ajaran cinta kasih merupakan misi suci dari agama-agama besar, yang seyogyanya menjadi praktik nyata kehidupan beragama. Jika secara sosiologis, kerap terjadi konflik antar umat beragama yang sangat merugikan; juga banyak kekerasan, terror dan pembunuhan yang dilakukan atas nama agama (jihad) seperti sering kita saksikan di beberapa belahan bumi ini, banyak pihak dan pakar agama meyakini hal itu terjadi akibat tarik-menarik kepentingan politik, ekonomi (kemiskinan), dan ketidakadilanyang kerap dirasakan umat beragama, bukan semata-mata soal doktrin “keras” agama. Bahkan, meskipun para terroris agama mengambil legitimasi dan justifikal dari teks-teks agama, pastilah hal itu merupakan penafsiran yang amat-sangat keliru, maka mari kita hidup dan berkarya di dalam Tuhan, untuk, dan (hidup) damai bersama manusia.

Semoga bagi para pemeluk agama baik Kristen, Islam, Hindu, Budha dan konghucu akan Terus menebarkan Cinta dan Kasih Sayang nya menurut ajaran agamanya masing-masing tanpa adanya saling membeda bedakan dan saling menyimpan rasa kesombongan diri.

 

Contact Person :

Bidang Sosial dan Kerohanian HIMA FH Universitas Pamulang Periode 2020/2021

Wa       : 081311168764

Email   : sosker.fhunpam@gmail.com

 

Salam Perubahan!

Agent of social HIMA FH UNPAM

Bidang Sosial dan Kerohanian

Himpunan Fakultas Hukum UNPAM

Total Page Visits: 134 - Today Page Visits: 3